← Kembali ke halaman depan

Sekelumit Kisah yang Dihantarkan Berjudul Mahasiswa

photo002.jpg

Mahasiswa Hanya Bisa Demo!; Potret Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi R. Andriadi Achmad Cetakan Pertama, Juni 2007 Penerbit MIMPIKU Jakarta Tebal XVI + 144 halaman

Sering orang bilang bahwa mahasiswa adalah garda terdepan dari pelindung hak-hak rakyat. Sejarah Indonesia telah berulang kali mencatat bahwa kekuatan mahasiswa yang notabenenya adalah anak muda mampu merobohkan tirani kekuasaan yang mencekik hak-hak rakyat itu. Dimulai ketika pemerintahan kolonial Belanda masih memegang tampuk kekuasaan di tanah Hindia.

Adalah PI (Perhimpunan Indonesia), merupakan organisasi terpelajar yang berdiri di Belanda. PI jualah yang mencetak kader-kader pemimpin masa depan Indonesia. Sebut saja Hatta, Syahrir sebagai angkatan pertama dan Parlindoengan Loebis (salah satu orang Indonesia yang sempat mencicipi kamp pembantaian Nazi Hitler) sebagai angkatan kedua. Walaupun berdiri jauh dari tanah kelahiran (Indonesia), para terpelajar yang tergabung di PI ini tidak serta merta melupakan keelokan tanah air. Diskusi diantara mereka tentang konsolidasi untuk percepatan kemerdekaan bagi tanah Indonesia merupakan hal yang rutin dilakukan. Akhirnya, setelah menyelesaikan studi di negeri Belanda mereka pun pulang dan melebur ke dalam ritme kehidupan masyarakat Indonesia untuk menanamkan sikap perlunya kemerdekaan demi kesejahteraan bangsa-bangsa yang mendiami tanah Indonesia.

Setelah kemerdekaan dikumandangkan, Indonesia tidak sepenuhnya damai dan tenteram. Berbagai pergolakan internal terjadi. Belum lagi kedatangan kolonial Belanda lewat agresi militer I dan II-nya. Hingga menapak masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia pun memasuki babak kolonial baru. Sekali lagi, kaum intelektual tampil demi pembebasan rakyat terhadap kediktatoran. Puncaknya pada era-66 mahasiswa berhasil mengakhiri Demokrasi Terpimpinnya Soekarno (hal. 6)

Selesaikah perjuangan mahasiswa? Dimana dan kapan pun, sifat menjajah terus mendapatkan tempat. Setelah Soekarno, Soeharto pun melakukan hal serupa dengan gaya otoriternya. Berkat dukungan militer, Soeharto menggolkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus). Keputusan itu dilawan oleh kekuatan mahasiswa ketika itu yang dikenal dengan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) tahun 1974 (hal. 1). Namun karena kekuatan tidak seimbang, kekuatan mahasiswa tidak mampu meredam keputusan NKK/BKK, hingga pada momen selanjutnya (tahun 1998) mahasiswa kembali bergerak sebagai garda terdepan dari rakyat mengusung keadilan.

Di tahun 1998 inilah, kedigdayaan Soeharto sirna. Tahun ini pula dinamai tahun lahirnya Reformasi yang sering diplesetkan masyarakat menjadi ‘repot nasi’. Mengapa? Sebab ketika itu memang, Indonesia sedang dilanda krisis moneter yang berdampak pada harga Sembako dan ketersediaan barang.

Sekarang ini merupakan masa pasca reformasi. Bukan berarti perjuangan telah selesai. Justru pada masa ini, mahasiswa tetap dituntut untuk waspada dan tetap pula memegang idealisme sebagai oposisi loyalis (hal. 8). Mahasiswa tidak lagi dituntut untuk turun ke jalan berdemonstrasi, namun juga membutuhkan kreativitas lain dalam menyuarakan pendapat yang juga termasuk dalam suara rakyat.

Tradisi membaca, menulis dan berdiskusi merupakan hal yang wajib dimiliki oleh para aktivis pembela rakyat (hal. 27-31). Namun, justru tiga elemen tersebut yang saat sekarang ini telah menipis di kalangan intelektual muda Indonesia. Bidang menulis, seringkali ditudingkan hanya kepada mahasiswa Sastra atau Ilmu Budaya saja. Padahal, seluruh mahasiswa (apapun bidang ilmu yang tengah digarap) harus mampu dalam hal minimal menulis.

Tentang Penulis dan Bukunya Buku yang ditulis oleh R. Andriadi Achmad ini merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi yang masih bertitel mahasiswa. Sejauh yang saya lihat, tidak banyak mahasiswa yang mampu melahirkan sebuah buku. Kalaupun ada kebanyakan dilahirkan secara bersama-sama dalam bentuk antologi. Sungguh merupakan suatu catatan gemilang yang ditorehkan oleh R. Andriadi Achmad sebagai seorang mahasiswa.

Buku ini merupakan kumpulan 25 tulisan yang ditulis Achmad dalam kurun waktu 2004-2007. Berisi tentang seluk-beluk pergerakan mahasiswa, sikap mahasiswa dalam menghadapi sebuah momentum sekelas Pemilu dan juga ide-ide bernas penulisnya sendiri tentang tatanan kehidupan mahasiswa (Baca; Negara “Impian” Mahasiswa hal. 17).

Akhirnya, mahasiswa masih dituntut untuk menjadi barisan terdepan dalam pembelaan terhadap rakyat. Tidak terikat pada dogma politik apapun atau dogma agama manapun yang dapat mencerai-beraikan barisan mahasiswa itu sendiri. Hidup mahasiswa Indonesia!

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Tags

Berita Asia Blogging

Kolom Asia Blogging

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)