← Kembali ke halaman depan

Buku dan Kemerdekaan

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!

Akhirnya, sampai juga pada titik dimana di titik ini semuanya bermula. Indonesia, nama negeri yang mencakup tanah Sabang, sampai tanah Merauke. Ribuan gugusan pulau, menjadi saksi bisu gugurnya ribuan bahkan ratus ribuan dan tak tertutup kemungkinan jutaan pejuang. Ini adalah tanah Indonesia, dan takkan pernah berubah, kecuali ada tenaga dahsyat yang membelah-belah pulau-pulau besar Indonesia.

Perjuangan Indonesia tak didapat hanya bersandar kepada perjuangan bersenjata. Namun, diplomasi dan juga pengetahuan. Tanpa pengetahuan (itu berarti tanpa buku) mustahil orang Indonesia mengenal yang namanya proklamasi. Mustahil orang Indonesia akan bisa percaya, hanya gara-gara secarik kertas bertanda-tangan dan dipidatokan dapat memerdekan suatu bangsa. Bahkan multi bangsa. (Indonesia termasuk ke dalam kategori multi bangsa).

Tetapi, jika dilihat realita kekinian, banyak yang tidak lagi menghargai kemerdekaan secara seutuhnya. Di mulut bilang merdeka, tetapi perbuatan kita masih menunjukkan sikap penindasan kepada yang lebih lemah. Sebut saja misalnya pembakaran buku yang dilakukan atas perintah langsung dari seorang menteri.

Apapun alasannya, buku tetaplah suatu benda yang maha penting. Atau, Indonesia mau berbalik lagi kepada suatu masa silam dimana orang Barbar karena kebodohannya membakar perpustakaan di Baghdad. Atau, Indonesia mau juga dikatakan tak berperikemanusiaan persis yang dilakukan oleh para Crusaders yang membakar buku-buku yang terdapat dalam kawasan Andalusia Spanyol.

Terkait peristiwa diatas, kita maklum dengan apa yang dilakukan oleh orang Barbar. Sebab, mereka tidak dibesarkan oleh buku-buku yang terjilid rapi. Sedangkan yang dilakukan para Crusaders, belakangan sesudah pembakaran buku yang dilakukan di luar istana Al-Hambra para pemukanya merasa menyesal sebab buku-buku yang dibakar itu berisi pengetahuan yang belum lagi terjamah oleh manusia ketika itu.

Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan dalam pembakaran buku atas perintah menteri pendidikan tersebut. Hanya gara-gara tiga huruf (PKI) yang tidak dicantumkan di belakang G 30 S, buku sejarah pun hangus dilalap api. Jika kita mau jujur dan berterus terang, sejarah Indonesia mana yang mengandung kemurnian lagi suci? Mengapa hanya yang berkaitan dengan komunis (katakanlah seperti itu), pemerintah seperti menghadapi beribu-ribu ekor tikus got?

Pemerintah seharusnya belajar, bahwa Komunis sudah terlanjur tercipta menjadi ideologi. Dan ideologi takkan pernah bisa hilang, lenyap walaupun dihantam serepresif mungkin. Malah, jika mereka diperlakukan seperti itu, mereka akan kuat. Seperti Indonesia, yang dulu di blokade oleh Armada Belanda. Belanda melakukan propaganda bahwa Indonesi telah kembali ke pangkuannya. Bukankah ketika itu Indonesia tidak putus asa?

Apapun ideologinya, (mau agama, komunis, kapitalis, kolonialis, apapun) tidak akan bisa dimusnahkan. Sebab, ia sudah mendunia (makanya pemikirannya disebut ideologi). Pembakaran buku sejarah 4 Agustus 2007 yang lalu itu telah membuktikan bahwa pemerintah masih mau bermain-main dengan persoalan basi. Pemerintah masih memegang ide Strukturalisme, tanpa mau menoleh ke ide Posmodernisme. Disamping itu, pemerintah juga masih mau bermain-main dengan kata Nasionalisme. Nasionalisme diusung sedemikian rupa, sampai anak kecil pun muak dengan pengertian Nasionalisme yang diusung pemerintah.

Semoga saja, pemerintah dengan usia yang sudah semakin tua ini cepat sadar bahwa prilaku-prilaku bodoh (seperti pembakaran buku) adalah perbuatan yang merugikan. Kayaknya pemerintah lewat prilakunya itu mau melegitimasi bahwa “lupakan sejarah beralih ke masa depan”. Tetapi wahai pemerintah, bangsa yang sukses tidak akan meninggalkan atau membunuh sejarahnya sendiri.

Semoga kemerdekaan tahun ini merupakan gerbang menuju kemerdekaan yang hakiki.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Tags

Berita Asia Blogging

Kolom Asia Blogging

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)