Menulis Menuju Tangga Sukses
Meramu Kata, Melejitkan Diri Cetakan Pertama, Juni 2007 Penerbit Seuramo Teumuleh, Banda Aceh Tebal 42 halaman
Apa sih yang tidak bisa ditulis? Semua kejadian yang terjadi di dunia ini bisa ditulis. Tentunya dengan pemahaman yang matang maka tulisan bisa tercipta dengan indah. Menulislah, itu juga yang disarankan oleh Pram menjelang wafat. Memang kenapa dengan menulis?
Menulis merupakan gizinya otak (hal. 5). Kekurangan gizi dapat mengakibatkan otak menjadi tumpul dan mempercepat ajalnya alias pikun. Oleh karena itu dengan menulis berarti menjalankan seluruh syaraf-syaraf yang ada di kepala untuk bekerja, sehingga ketumpulan otak dapat dihindari.
Menulis juga dapat mengobati stres dan juga merupakan salah satu cara dalam menghadapi situasi berat misalkan lagi berada dalam penjara (hal. 8). Wah, sungguh membosankan berada dalam penjara. Buktikan saja sendiri. Misalkan, di rumah singkirkan seluruh media penyedia informasi seperti televisi, radio, Hp atau barang-barang pengobat stres lainnya seperti buku, video game dan seterusnya. Lalu, menetaplah disitu. Tidak perlu satu hari, cukup 6 jam saja maka anda akan merasakan seperempat berada di dalam penjara. Lihat Hamka. Di penjara, ia dapat menyelesaikan karya fenomenanya yaitu tafsir Al-Azhar. Lihat juga Pramoedya, di pengasingan ia dapat menyelesaikan Tetralogi Buru-nya yang sangat terkenal (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
Tentunya menulis tak dapat disisihkan dalam membaca. Tanpa membaca tulisan yang ditulis akan terasa kering. Maka, seiring dengan kebutuhan kita untuk menulis, dengan sendirinya kebutuhan untuk membaca pun akan semakin bertambah dan bervariasi. Misalkan dulu ketika di SMA sering baca buku-buku teenlit. Lalu setelah menjadi mahasiswa, bahan bacaan pun menjadi agak serius dan dewasa. Dewasa disini bukan berarti porno. Namun, dewasa yang dimaksudkan adalah bacaan yang tidak akan dapat dipahami oleh anak-anak ataupun remaja. Biasanya, bacaan seperti itu kebanyakan bersifat menjabarkan teori-teori dari para pakar.
Setelah membaca dan menulis apakah persoalan akan selesai sampai disitu? Ya, kalau ingin selesai ya selesai. Tetapi alangkah ruginya kita bila punya tulisan namun hanya kita nikmati sendiri. Serahkan tulisan itu kepada teman-teman kita biar dibaca dan tentu saja kita harus siap menerima kritik. Atau, jika ingin lebih elegan kirim tulisan-tulisan tersebut kepada media massa cetak maupun elektronik.
Buku mungil ini berisi tentang pemaparan apa itu membaca dan menulis. Sederhana tampaknya memang. Buku ini juga memaparkan trik-trik bagaimana membuat tulisan yang baik dan bisa dinikmati banyak orang. Tentunya, buku ini pula merupakan jawaban bagi kita yang bertanya-tanya apakah menulis itu susah? Tentu jawabannya takkan bisa didapat tanpa memulainya. Maka tunggu apalagi, menulislah dari sekarang.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.