Duka Peperangan Cucu Sang Nabi
Judul Buku Tentara Langit Di Karbala; Epik Suci Cucu Sang Nabi Penulis Khalid Muhammad Khalid Penerbit Mizania Cetakan I, Juli 2007 Tebal 227 halaman
Tujuh puluh dua pasukan Husain dikepung empat ribu tentara Ibn Ziyad di bawah komando Syimr ibn Dzil Jun. Setiap satu sahabat Husain harus menghadapi 50-60 tentara musuh sekaligus. Sebelum peperangan dimulai, tentara musuh menghalangi rombongan Husain. Geriba (tempat air) yang sebelumnya telah dipenuhi dengan air oleh saudara seayahnya, Al Abbas ibn Ali, sebelum blokade menjadi ketat, telah kering (karena penghalangan ini). Dalam pertempuran yang tak seimbang itu, cucu Rasulullah tersebut tersungkur terkena sabetan pedang dan mencoba bangkit kembali dengan tubuh penuh luka dan darah. Dia tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya yang membabi-buta. Imam Husain terus membela pasukannya dengan mengorbankan dirinya, maju sendiri ke medan laga. Akhirnya, setelah melewati masa pertumpahan darah yang sangat panjang, dia pun jatuh dan terbunuh di tangan Syimr ibn Dzil Jun, seorang panglima durjana yang sangat berambisi untuk membunuhnya.
Itulah sekelumit kisah dalam buku “Tentara Langit di Karbala”, sebuah buku yang mengulas tragedi memilukan dalam sejarah Islam. Buku ini ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid.
Disebutkan, bagaimana cucu-cucu Rasulullah rela mengorbankan nyawanya demi untuk persatuan umat. Hasan rela meninggalkan jabatannya sebagai khalifah dan memberikan tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah dari Bani Umayyah. Digambarkan pula, bagaimana sebuah kekuasan dapat membutakan nurani manusia sehingga tidak bisa membedakan, mana yang benar dan yang salah, serta kekuasaan mampu menghilangkan rasa cinta dan hormat di hati, bahkan kepada keturunan Rasulullah SAW sekalipun.
Itulah yang diperbuat keturunan Muawiyah. Tidak cukup dengan kekuasaan yang sudah di tangan, antek-antek setan (antek-antek kekuasaan) malah tanpa dosa meracuni Hasan dalam kezuhudan pemikiran. Dan akhirnya, Hasan pun syahid setelah diracuni itu. Selesaikah?
Berikutnya Husain. Muawiyah ternyata memang menjilat ludahnya sendiri yang telah dibuang di muka umum. Perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan yaitu: kekhalifahan setelah Muawiyah hendaknya dikembalikan kepada umat Islam dilanggar oleh Muawiyah sendiri. Muawiyah malah mengangkat Yazid, putranya yang tidak cakap untuk mengurusi pemerintahan. Akibatnya Husain tidak mau membaiat Yazid sebagai khalifah Islam ketika itu.
Cerita heroik sekaligus penuh kesedihan dan kegetiran. Buku dengan sejuta pesona ini akan mengantarkan kita kepada suatu kondisi yang memilukan. Pertentangan dan perpecahan dalam tubuh Islam itu sendiri. Buku ini juga dilengkapi oleh foto-foto makam Husain di Karbala.

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Patra Rengga
Saya terharu setiap kali mendengar dan membaca kisah peperangan antara Imam Husain melawan pasukan Yazid ibn Muawiyah. Kekuasaan memang kadang beringas apabila tidak terpenuhi semua keinginannya. Sampai sekarang pun masih terjadi pertumpahan darah antar saudara demi memperebutkan kekuasaan. Entah sampai kapan tiada seorangpun yang tahu. Semoga buku ini dapat menjadi tolak ukur dan nasehat yang baik untuk seluruh umat demi tercapainya perdamaian sesama umat Islam di masa depan. Amin. Wassalamualaikum Wr Wb.
December 19th, 2007 at 12:04 pm