You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Apa Kabar Toko Buku?
Menarik apa yang dipaparkan oleh Wiku Baskoro dalam artikelnya yang dimuat Pikiran Rakyat 29 November 2007. Artikel tersebut mengkritisi keberadaan toko buku di Bandung yang diakomodir oleh para komunitas kreatif (orang muda).
Saya sendiri berpendapat bahwa permasalahan yang dipaparkan Wiku bukan saja terjadi di Bandung tetapi di tiap sudut Indonesia permasalahan serupa kerap menjerat afiliasi kerja orang muda sebagai komunitas kreatif. Hal ini yang menimbulkan timbul tenggelam komunitas kreatif toko buku independen di Indonesia.
Apa sebab?
Wiku menyentilnya sebagai berikut:
Komitmen menjadi faktor dasar yang sering dilupakan oleh para pelaku buku baru. Semangat berwirausaha yang dimiliki oleh banyak anak muda, tidak (atau setidaknya) belum dibarengi konsistensi dalam melakukan suatu hal. Dari jumlah hampir setengah pebisnis buku muda di Bandung yang “gulung tikar” itu, dari obrolan yang penulis lakukan, rata-rata terganjal masalah fokus. Ada yang personelnya sibuk mengerjakan skripsi, sampai mereka yang telah diterima kerja.
Adapun faktor lain yang Wiku kemukakan ialah:
Kendala lain yaitu masalah tempat. Rata-rata umur kantong buku yang tutup adalah satu tahun. Para pengelola toko buku jenis ini rata-rata hanya menyiapkan dana untuk mengontrak tempat selama satu tahun. Sementara tahun berikutnya, mereka hanya bergantung pada prediski penjualan selama tahun berjalan. Bisnis buku tergolong bisnis yang pengembalian modalnya cukup lama. Maka, yang banyak terjadi adalah ketika masa kontrakan habis, omzet tidak sesuai prediksi, dana untuk kontrakan tidak ada, keputusan yang diambil adalah “gulung tikar”.
Sebenarnya, toko buku independen amat menarik dan cocok bagi para muda yang menyukai tantangan. Bagaimana cara mendapatkan “kunci” kepercayaan dari pelanggan. Tentunya dengan dibumbui sedikit idealisme misalnya “mencerdaskan anak bangsa lewat buku” atau semacamnya.
Di Bandung, saya mengenal TB. Ultimus yang kalau tidak salah dikelola oleh orang muda. Memang pada awalnya sedikit “payah” untuk menemukan kepercayaan. Di kota saya sendiri (Padang) seorang senior saya berjibaku dengan serius mendirikan sebuah taman bacaan. Awalnya hanya dimodali semangat membagi bahan bacaan kepada orang lain dan berkembang terus menjadi bisnis yang jika dilihat sama kacamata “kuda” hasilnya tidak seberapa. Padahal hasilnya melimpah ruah.
Saya masih percaya bahwa orang muda mampu memikul beban asalkan diberi kepercayaan oleh berbagai pihak (oleh orang muda sendiri terutama oleh orang tua).
Semoga toko buku independen tetap akan ada!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.