You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Komunitas Buku Bukan Komunitas?
Sedih juga saya ketika membaca suatu email yang tergabung dalam millis Apresiasi Sastra (5/12/07). Kata si pengirim (Pandu Ganesa):
Aduhai, malang nian dikau wahai komunitas buku! Nggak direken? Nggak dikenal? Nggak punya masa? Nggak punya dampak bisnis? Nggak strategis sebagai link-up barang konsumsi? Ada 1001 kemungkinannya, tapi nyatanya komunitas buku tidak ada di daftar itu. Bagaimana ini para dedengkot komunitas perbukuan? Ada komentar?
Pandu mempertanyakan sebuah iklan yang termaktub pada Kompas (5/12/07) tentang Indonesian Consumunity Expo 2007 (Kumpul Bareng Komunitas) pada 12 Desember 2007 di Hotel Sangrilla dari pukul 8.00-17.00 WIB. Lebih lanjut, Pandu dengan nanar memaparkan:
Dan Anda tahu siapa saja pembicara di seminar itu? A.l wakil dari komunitas: JCI, TC125, Karimun Club, B2W, IPS (musik progrock), Milanisti, Chips (majalah), Bogasari, Esia, Indosat, NCC, Honda Tiger. Pendeknya: otomotif, ponsel, musik, sport, komputer, makanan. Lantas, dimana wakil dari komunitas buku???
Di koran yang sama (Kompas, 4/12/07) Taufik Ismail berceloteh bahwa:
Budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia sekarang jauh menurun jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Keadaan ini, antara lain, disebabkan oleh orientasi pembangunan pemerintah yang terlalu bersifat materialistis. Siswa setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, selama tiga tahun sekolahnya, wajib membuat 106 tulisan dan membaca 25 buku sastra yang terdiri atas empat bahasa yaitu bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis. “Sekarang anak SMA rata-rata hanya membuat satu tulisan dalam satu tahun. Memprihatinkan sekali.
Apa yang dapat anda diambil dari dua contoh peristiwa tersebut???
Adakah???
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
Yves
Buku? Ah, peninggalan masa lalu. Yang penting sekarang adalah komersialisasi besar2an. Komunitas? Tentu komunitas yang mendatangkan uang donk, setidaknya dari sisi sponsorship. Karena itu bisa ada komunitas Indosat tapi tidak perlu ada komunitas musik klasik. Komunitas buku, jangan harap, kecuali bernama komunitas Gramedia, komunitas Mizan, dll, dll. Yuk swadaya, jangan berharap dari luar sana.
December 6th, 2007 at 3:08 am
sumardy
saya lagi mencari komunitas2 buku yang ada di Indonesia. untuk itu, kira2 bisa menghubungi siapa dan komunitas apa saja?
thanks
sumardy
January 2nd, 2008 at 2:11 pm
zafan
bwt sumardy:assalamualaikum, kami dari dari INSAN BACA (komunitas taman baca atau perpustakaan mandiri) seSURABAYA,anggotanya 7 taman baca dan mudah2an bertambah, anda bisa menghubungi zafan di nafaz_print@yahoo.co.id atau 031 703 21 582 atau 0856 456 6757 9 OK
January 20th, 2008 at 10:18 am
reidy
lha kalo komunitas buku di kota malang jawa timur ada ndak ya? dimana bisa ketemu?
March 1st, 2008 at 12:27 pm
petak
Saya kira sekarang minat baca lebih besar dari jaman dulu,, eh ternyata salah,
baru sadar kalo jadi korban arus materialistis,,
April 19th, 2008 at 3:49 pm