You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Budaya Baca Buku yang Turun Drastis?
Budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia sekarang jauh menurun jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Keadaan ini, antara lain, disebabkan oleh orientasi pembangunan pemerintah yang terlalu bersifat materialistis.
Begitulah ucap seorang Taufik Ismail di Kantor Habibie Center, Jakarta, Senin (3/12) yang dikutip dari KOMPAS 4 Desember 2007. Lanjutnya:
Siswa setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, selama tiga tahun sekolahnya, wajib membuat 106 tulisan dan membaca 25 buku sastra yang terdiri atas empat bahasa yaitu bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis.
Saya pikir, ucapan Taufik ada benarnya juga. Seharusnya pemerintah mulai untuk peduli terhadap budaya baca buku. Pemerintah seharusnya tidak terlalu nyinyir pada satu bidang budaya saja-pariwisata. Sebab, segmentasi budaya amat luas termasuk budaya baca buku.
Walaupun pemerintah punya program Taman Bacaan, hal itu belumlah cukup. Perlunya “pemaksaan” oleh pemerintah supaya masyarakat Indonesia khususnya generasi muda mulai merutinkan baca buku.
Kenapa harus dipaksa?
Saya sendiri telah mengalaminya dan melihat realita yang berkembang pada institusi pendidikan-Perguruan Tinggi. Begitu susahnya para mahasiswa (kawan-kawan saya) untuk membaca setengah halaman buku. Banyak alasan yang mereka kemukakan. Padahal, mereka adalah calon penerus pemimpin bangsa. Apa jadinya kalau pemimpin bangsa kemudian “tidak bisa baca?”
Maka, sudahkah anda membaca buku hari ini?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
yudha
yang menyedihkan justru ada yang menyerah tidak jadi membaca sebuah buku hanya karena buku itu tebal… menyedihkan sekali
January 27th, 2008 at 7:59 pm