Rentang 14 Juni-20 Juni 2008
LAMPUNG POST
“Dalam novel ini ada kelompok yang menamakan dirinya Kelompok Patriotik Radikal (Keparad). Salah satu anggotanya, Ilham Tegas, mengatakan Indonesia yang mereka (para pendiri bangsa) cita-citakan cuma bertahan sebelas tahun. Setelah itu, Indonesia hanyalah istilah untuk integrasi wilayah bukan integrasi cita-cita atau bangsa…” selengkapnya
“Subhanallah, ceritanya penuh dengan romantika menyentuh (bisa sampe nangis kalau bener-bener konsentrasi), sarat dengan hikmah. Kita bisa banyak belajar tentang perjuangan dan pengorbanan. Isinya bisa jadi inspirasi kita buat ke depan dapat mengajari kita soal mengarungi kehidupan, bagaimana mengatur skala prioritas dalam mengambil tindakan dan sabar dalam kehidupan cinta karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta untuk Allah Azza Wa Jalla.” selengkapnya
SUARA PEMBARUAN
“Saptapadi merupakan khazanah warisan leluhur Nusantara. Memuat 7 janji penopang bangunan rumah tangga berfondasikan sikap saling percaya (trust), hormat (respect) dan Kasih (Love). Sejak zaman dulu nenek moyang bangsa ini sudah berbudaya. Misalnya, berkait urusan keluarga, jarang terjadi eksploitasi (isap-mengisap) atau pun praktik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Laki-laki cenderung menggunakan rasio, sedangkan perempuan lebih mengedepankan intuisi. Sungguh sebuah sintesis holistik antara unsur maskulin dan feminin.” selengkapnya
“Nilai-nilai kemanusiaan universal merupakan paradigma yang harus diterapkan dalam upaya menjelaskan hakekat kehidupan ini tanpa diskriminasi. Sebuah paradigma kemanusiaan yang melampaui batas-batas etnis, suku, ras, agama, bahkan sampai jenis kelamin. Termasuk dalam konteks buku ini, sesungguhnya Musdah Mulia sedang mengritik diskriminasi dan pandangan bias terhadap peran dan posisi perempuan di Indonesia, khususnya di ranah publik. Karena kekeliruan paradigma tersebut, maka catatan sepanjang sejarah umat Islam di Indonesia selalu ditemui sekian banyak bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal tersebut. Kaum perempuan selalu saja dinomorduakan.” selengkapnya
JAWA POS
“Kairo, 30 Agustus 2006, lelaki ringkih 95 tahun mengembuskan napas penghabisan. Mesir berkabung, dan para penggemar novel di seluruh dunia berduka atas wafatnya Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra 1988 itu. Sepanjang riwayat kepengarangannya, ia sudah menulis tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek. Penulis The Cairo Trilogy (Bayn Qasrayn,1956, Qasr al Shawq, 1957 dan As Sukkariyya, 1957) itu tak luput dari kontroversi. Pada 1994, seseorang menghunuskan belati di lehernya tatkala ia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan mingguan dengan rekan-rekan sesama pengarang di sebuah kafe di Kairo. Naguib Mahfouz luka parah, saraf tangan kanannya terganggu.” selengkapnya
PONTIANAK POST
”… sejarah mencatat ada suatu masa di suatu tempat ketika kaligrafi secara sistematis diberangus dan disingkirkan. Turki pada paruh pertama abad ke-20 mengalami revolusi besar. Mustafa Kemal Ataturk melancarkan usaha besar-besaran mengganti identitas kebangsaan yang semula pusat imperium Islam menjadi negara sekuler modern. Semua yang berbau Arab dilarang. Alquran tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah. Tradisi dan praktik keislaman tidak lagi menjadi kepentingan umum. Di antara itu semua, seniman kaligrafi menjadi pihak yang paling terluka.” selengkapnya
“Pada persoalan hakikat inilah sebenarnya nilai-nilai universalitas itu bertengger, apa pun bentuk bahasa yang digunakan untuk mewakilinya. Maka, menjadi sesuatu yang patut diapresiasi secara positif ketika Munir Che Anam melakukan penelitian yang kemudian tersaji dalam bentuk buku berjudul Muhammad SAW dan Karl Marx Tentang Masyarakat Tanpa Kelas ini. Munir melihat ada kesamaan antara konsep yang diidealkan Marx dengan ajaran yang dibawa Muhammad SAW, yaitu pada sisi perjuangan untuk menghilangkan ketidakadilan di masyarakat. Yang mesti dilihat adalah hakikat apa yang diperjuangkan, bukan bahasa, atau media lain untuk menamakan konsep dan ajaran tersebut, yang dipakai dalam sebuah perjuangan.” selengkapnya

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
imron
Ulasan tentang novel Negara Kelima sungguh menarik minat untuk membacanya. Terutama menyangkut Indonesia hanya bertahan 11 tahun???
Dan semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita Ketika Cinta Bertasbih untuk memaknai cinta yang sesungguhnya.
June 27th, 2008 at 11:33 am
sayyid
Yup… mungkin saja kan, Indonesia itu bertahan 11 tahun…
June 28th, 2008 at 10:41 am