You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Budaya Membaca; Membaca Mahasiswa

Budaya Membaca; Membaca Mahasiswa

sayyid — January 6, 2009 / 6:46 pm

Membaca, adalah sebuah keharusan yang dilakoni oleh para pribadi yang menamakan dirinya seorang intelektual. Terlepas dari apa yang dibaca—tentunya bacaan-bacaan itu disesuaikan dengan kapasitas pemikiran atau otak kita. Sebab, jika bacaan itu terlalu berat atau tidak kita mengerti, mungkin itu karena kita tidak memulainya dengan bacaan yang lebih ringan. Bahkan lebih bagusnya lagi bila bahan bacaan yang kita baca itu didiskusikan oleh orang lain. Saling adu argumentasi, retorika dalam mempertahankan pendapat—yang jelas tentang buku yang dibaca. Sehingga, wawasan kita pun akan semakin bertambah dan luas, seiring dengan ‘panas’nya diskusi yang kita ikuti.

Namun, agaknya harapan-harapan seperti Gerakan Cinta Buku, Gerakan Membaca dan harap tentang terwujudnya ‘generasi cinta buku’ sulit sekali ditemukan pada area para intelek—kampus dan ruang perkuliahan. Jika kita lihat pada aktifitas kampus di kota Padang, dimana ada beberapa perguruan tinggi, tradisi membaca, seperti perbuatan yang aneh disana. Ironisnya sering kata-kata yang terlontar seperti; ‘sok rajin’, ‘sok pintar’ dimuntahkan kepada orang-orang yang berminat atau sekedar ingin mencintai buku. Perpustakaan adalah makhluk asing yang datang entah dari planet mana, sehingga dijauhi oleh para mahasiswa. Jika ada tugas dari dosen; ‘harus baca buku ini atau baca buku itu’ celoteh putus asa pun langsung mengudara di seantero kelas. Tentunya dengan suara yang diperlambat sebab takut, keluhannya itu diketahui oleh dosen yang bersangkutan. Sehingga, suasana perkuliahan pun tak jarang menjadi ajang ‘ajar’ bukan ajang bertukar pikiran. Apalagi, jika perkuliahan dilaksanakan pada waktu-waktu ‘rawan lapar’ dan ‘rawan ngantuk’. Maka, membosankanlah perkuliahan itu. Ditambah, penerangan yang diberikan dosen, sayup-sayup tak sampai kepada mahasiswa. Jadilah, perkuliahan itu tak ada isinya. ‘Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.’

Sikap seperti inilah yang dewasa ini dimiliki oleh generasi intelektual Indonesia terutama kota Padang, bernama mahasiswa. Maka tidak heran, jika para mahasiswa pun tidak mampu memikul tanggung jawabnya terhadap rakyat sebagai; ‘penyambung lidah rakyat’. Sebab, bagaimana mau menyambung lidah rakyat, para intelektual muda ini saja, tidak mampu menahan ‘berat badannya sendiri’ yang gontai dan hanya terdiam jika terjadi ketidakadilan yang menghantui di sekitar tempat ia berdiri.

Generasi yang cinta ‘nongkrong tanpa isi’. Membicarakan masalah perasaan; cinta monyet, percakapan tentang asesoris yang lekat di badan—motor—mobilnya. Atau membahas tentang musik yang hingar-bingar tak ketentuan arah alias tidak ada bobot yang dibawa oleh musik tersebut. Semuanya hanya berlandaskan hura-hura sesaat, dan jauh dari segi ke-intelektualan. Tidak peduli—basipakak dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa sangat besar pengaruh dari membaca, apa yang kita baca dan apa yang kita serap. Memang, ada sejumput dari mayoritas mahasiswa yang ingin sekali mencintai buku, dan berusaha tetap konsisten tentang janjinya terhadap rakyat. Namun, persentasinya tidaklah akan mampu untuk melawan sebuah hegemoni dari orang-orang yang berkuping serigala. Mereka itu pun, terbagi lagi—tersekat-sekat oleh ideologi yang mereka ‘makan’. Sehingga, mereka tidak dalam sebuah kesatuan yang komplit, melainkan hanyalah sebuah kekuatan kecil dengan berlandaskan doktrin-doktrin ideologi. Entah itu agama, nasionalisme, ke-kirian, liberalisme, atau orang-orang yang mengambil jalan abu-abu—tidak dapat menentukan dirinya—bimbang mau berdiri di pihak yang mana—sebuah ke-tidak konsistenan-kah?

Kesemuanya itu, diperparah lagi dengan pikiran-pikiran picik yang tentunya selalu ada di setiap genre-genre yang berkembang. Sehingga, fitnah dan omong kosong selalu saja mewarnai aktivitas pergerakan mahasiswa. Perebutan lahan kekuasaan (BEM) di kampus pun menjadi warna tersendiri pula, melengkapi dari keterpurukan jiwa mahasiswa yang tersekat-sekat dan tentu saja, hal ini memudahkan bagi para birokrat untuk menancapkan kuku-kukunya dan mencabik-cabik persatuan mahasiswa yang sudah koyak.

Sungguh suatu kenyataan yang tragik dan hal itu terjadi saat ini. Mungkin, para mahasiswa merasa, zaman ini adalah zaman yang aman. Tidak seperti orde lama atau pun orde baru yang memasung kehidupan beraktivitas di kampus. Maka, hanya satu ungkapan yang dapat penulis sampaikan; para mahasiswa bersatulah!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • » Mimpi Anggun di Surabaya Tidak Jadi Kenyataan ~ Blog Archive ~ Musik Indonesia (Asia Blogging Network) — [...] Keinginan Anggun agar penonton yang datang ke konsernya tidak asyik foto-foto dengan ponsel ternyata hanya cukup jadi mimpi saja. ...
  • SHEMY — i love u all, power slaVES.BANGKITLAH KEMBALI.VANS WONOSOBO.KAPAN KONSER DI WONOSOBO...?
  • arie — ne emang berita keren.secara gue ngefans banget ma HEYDI IBRAHIM.
  • ridwn — hah gua suka maen bola
  • supratman — aq mohon bgt please indonesian idol 2009 kpan di bka lgi aq pgn bgt mncoba jd penyanyi indonesi/jd orang trknl........ mdah2an ...
  • supratman — waduh aq dah gx sabar nich kpan ya indonesian idol di bka lg??????????? aq pgn cpet manggung nich........ please jgn tutup dulu ...
  • vad — wahhhh kerennn ... hemm warna rock yg jadi gimana yahhh ...!!! di tunggu albumnya..... pokoe.. maju terus rock indonesia........!!
  • Bagus mulyana — Bravolah bwt Idol mh,,, Ttp smngat yUkk,,,!!
  • Alie Fivers — Riichie . . . Xm kug cAkep bgd sIch . . suuksses dah bwt FM
  • ICHWAN LUTHFI — allo diMAna ya aq biSA dapet'n lgu" Ost namaku dick,, yg judulx The One?........... please ........... soal nya tu lagu enak bnget di ...