You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Dilema Membaca

Dilema Membaca

sayyid — January 6, 2009 / 6:48 pm

Penafsiran kaum intelektual terhadap nilai dan aplikasi yang terjadi di masyarakat masihlah minim. Bolehlah dikatakan minim, untuk menghilangkan prasangka nihil. Entah benar apa yang diucapkan Fan Gamma Bizen (tokoh dalam serial komik “Tale of the Sea King”) bahwa manusia selalu hidup dari bayang-bayang sugestif manusia lainnya yang dianggap “lebih” dari dirinya. Jika kemampuan manusia B telah “lebih” dari manusia A, maka manusia A menghilangkan filtersasi terhadap hal-hal bodoh—mungkin fanatisme—sehingga acap kali tersandung karena telah gelap mata—karena telah menyerahkan segenap ilmu di bidangnya kepada seorang manusia B yang mungkin saja hanya parlente dan bepura-pura di segi penampilan luar saja.

Apakah ada yang salah dari Alam Takambang Jadi Guru? Apakah ada yang keliru dari persoalan membaca? Selama ini, saya selalu disuguhi tentang permasalahan malas membaca (di media cetak, media elektronik, blog, dulu saat mengecap bangku pendidikan dasar dan menengah)—orang Indonesia itu pemalas, pemalas membaca. Benarkah itu?

Membaca tulisan Ardiansyah berjudul “Budaya Dibaca, Budaya Ditulis” yang terbit di Harian Singgalang 22 Juni 2008 hal. 10, saya jadi ingat peristiwa yang menimpa seorang kawan beberapa waktu lalu. Ia tersangkut masalah dengan dosennya, yaitu masalah membaca. Apakah kawan saya itu pemalas? Bodoh? Saya kira tidak, sebab kalau dia bodoh dan pemalas tak mungkin ia diamanahi beban secara politis, dan mental di kelembagaan mahasiswa.

Sebuah kalimat yang menggelitik alam pemikiran saya ditulis oleh Ardiansyah (2008) dalam esainya tersebut;

“Tidaklah heran jika di zaman yang sudah modern ini budaya baca menjadi suatu momok yang sangat boring.”

Dan lagi-lagi muncul pertanyaan, benarkah di zaman ini, membaca adalah sesuatu yang membosankan? Terkhusus untuk masyarakat Indonesia yang kesehariannya memang telah berulang kali tertipu—oleh pemimpin, oleh tetangga, oleh teman dan “oleh-oleh” yang lain—mungkin begitu maksud yang disampaikan Butet Kertarejasa dalam sebuah tayangan televisi swasta berjudul “Kabaret” (dalam rangka Ulang Tahun kota Jakarta yang ke 481).

Jika iya; membaca adalah sesuatu yang membosankan dalam dekade ini, gairah penerbitan buku di Indonesia ini tak akan meriah. Mungkin memang iya, di Sumatra Barat, gairah penerbitan itu boleh dibilang sekarat tetapi di luar Sumbar banyak bermunculan penerbit-penerbit baru. Bahkan sekarang ada tren di kalangan penulis baru yaitu self production atau penerbitan yang dilakukan seorang diri; menyiapkan naskah, editing, mengurus ISBN, percetakan, dan pemasaran, tentunya dengan modal seminimal mungkin dan harga yang juga murah ketimbang diurus oleh badan penerbitan yang sudah umum.

Kita itu Sering Kena Tipu Seorang dosen pernah mengajarkan saya hal yang “berbahaya”; jangan percaya terhadap omongan orang. Dalam hal ini, saya pikir masyarakat Indonesia tidaklah pemalas membaca seperti yang dituduhkan banyak kaum intelektual dalam tulisan-tulisannya. Orang Indonesia itu sangat antusias terhadap buku. “Laskar Pelangi” (2007), “Ayat-Ayat Cinta” (2008) tak mungkin jadi bestseller di negeri ini jika fakta dan tuduhan malas membaca yang dilayangkan benar-benar terbukti.

Taman-taman bacaan yang didirikan oleh pemerintah ataupun oleh individu ternyata laris digandrungi masyarakat yang bertitel “Orang Indonesia”. Dari mulai novel, koran, majalah, stensil, dan komik serial. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia telah membudayakan membaca. Lalu mengapa kita masih menggunakan patron lama bahwa Indonesia adalah negerinya pemalas membaca?

Saya kira, letak persoalannya bukanlah pada persoalan membaca. Tetapi, aplikasi dari membaca itu. Lagi-lagi, bukannya masyarakat Indonesia ini yang malas mengaplikasikan dari hal pembacaannya itu tetapi masyarakat mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan apa yang sudah dia baca ke dalam realita kehidupannya. Saya kira tak ada hubungannya dengan menulis sebab tak semua orang akan jadi penulis esai, artikel, puisi, cerpen ataupun novel meskipun semua orang itu punya kemampuan di masing-masing bidang itu.

Dalam hal aplikasi dari membaca, media memang punya andil besar terutama media elektronik. Lagi-lagi, televisi memberikan sugesti yang non-positif bagi masyarakat Indonesia. Walau bagaimanapun, media visual mempunyai keunggulan sebab mudah dicerna oleh otak dan selalu mendapatkan tempat spesial. Jadi, hal positif yang sudah terjaring ketika membaca, menjadi buyar dan lupa untuk mengaplikasikan ke dalam kehidupan nyata digantikan oleh fragmen-fragmen visual hasil saringan otak terhadap televisi.

Dunia Intelektual dan Ketakutan Membaca Sepertinya kita sepakat bahwa para intelektual mesti punya pengetahuan yang dinamis dan ditopang oleh uletnya meng-update bacaan, menulis juga mengaplikasikannya. Penyakit psikis yang menjangkiti intelektual muda salah satunya adalah ketakutan membaca. Ketakutan bukan berarti malas, tetapi sistem pengajaran untuk intelektual muda Indonesia masih terkesan tak manusiawi.

Misalnya, si A mengambil 4 mata kuliah. Dalam minggu pertama, keempat mata kuliah tersebut meninggalkan tugas buat mahasiswanya yaitu membaca sekaligus mereview bacaannya tersebut. Satu mata kuliah menetapkan lebih kurang tiga bacaan yang tidak gampang mencernanya. Berarti tugas untuk minggu kedua ada dua belas bahan bacaan berat dan kesemuanya mesti dituliskan ulang intisarinya. Minggu kedua, si A berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya dengan pas-pasan. Kejadian ini berturut-turut selama satu bulan. Apakah yang terjadi pada si A? Si A pun mulai malas membaca bahan bacaan yang diberikan karena tak mudah dicerna. Otaknya dipaksa bekerja seperti mesin industri kala Revolusi Industri Inggris. Si A pun mulai berpikir cepat, mulai tak mengerjakan tugas. Kalaupun mengerjakan, terkesan hanya merangkum bukan menuliskan pemikirannya sendiri. Ia bosan, ia jenuh dengan kuliah yang seperti itu. (Pengalaman ini banyak dikeluhkan oleh teman-teman kepada saya, juga keluhan saya kepada teman-teman).

Mungkin studi kasus tersebut adalah penyebab kenapa intelektual muda kerap ketakutan dengan bahan bacaan dan membaca. Bahkan alergi dengan buku-buku tebal. Saya dulu pernah menenteng-nenteng sebuah novel berjumlah 300-an halaman ke hadapan teman-teman. Sebagian besar dari mereka terlihat tidak senang, bahkan menuduh saya sok pamer, dan sok rajin (rajin baca buku). Tetapi, mau diapakan lagi mereka sudah trauma dengan tugas dan bahan bacaan.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • » Mimpi Anggun di Surabaya Tidak Jadi Kenyataan ~ Blog Archive ~ Musik Indonesia (Asia Blogging Network) — [...] Keinginan Anggun agar penonton yang datang ke konsernya tidak asyik foto-foto dengan ponsel ternyata hanya cukup jadi mimpi saja. ...
  • SHEMY — i love u all, power slaVES.BANGKITLAH KEMBALI.VANS WONOSOBO.KAPAN KONSER DI WONOSOBO...?
  • arie — ne emang berita keren.secara gue ngefans banget ma HEYDI IBRAHIM.
  • ridwn — hah gua suka maen bola
  • supratman — aq mohon bgt please indonesian idol 2009 kpan di bka lgi aq pgn bgt mncoba jd penyanyi indonesi/jd orang trknl........ mdah2an ...
  • supratman — waduh aq dah gx sabar nich kpan ya indonesian idol di bka lg??????????? aq pgn cpet manggung nich........ please jgn tutup dulu ...
  • vad — wahhhh kerennn ... hemm warna rock yg jadi gimana yahhh ...!!! di tunggu albumnya..... pokoe.. maju terus rock indonesia........!!
  • Bagus mulyana — Bravolah bwt Idol mh,,, Ttp smngat yUkk,,,!!
  • Alie Fivers — Riichie . . . Xm kug cAkep bgd sIch . . suuksses dah bwt FM
  • ICHWAN LUTHFI — allo diMAna ya aq biSA dapet'n lgu" Ost namaku dick,, yg judulx The One?........... please ........... soal nya tu lagu enak bnget di ...