You're here: My Hobby Blogging » Dunia Buku » Article: Menuju 2015: Indonesia Sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair
Oleh: Dinyah Latuconsina
Hans-Michael Fenderl, Kepala Bagian Asia Frankfurt Book Fair (FBF), tak bosan-bosan menyatakan kekagumannya pada presentasi Raja Manahara Hutauruk (Hara) yang mencita-citakan Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Menurut Fenderl, semangat dan dedikasi Hara, project officer delegasi Indonesia ke FBF yang juga salah satu pemimpin penerbit Erlangga, adalah sebuah kehormatan bagi FBF itu sendiri karena dengan menjadikan FBF sebagai tujuan bersama sebuah bangsa artinya FBF telah dihargai begitu tinggi. Sebagai respon lebih lanjut terhadap presentasi Hara yang disampaikan di akhir acara “Frankfurt Book Fair dan Perbandingan Kebijakan Buku Sekolah Jerman dan Indonesia” yang diadakan di GoetheHaus, 2 April 2009, Fenderl berjanji akan menyampaikan kesan-kesannya selama di Indonesia kepada rekan-rekan kerjanya di FBF, terutama kepada direktur FBF, sesegera mungkin setelah ia kembali tiba di Jerman minggu depan.
Tetapi, cita-cita Hara itu, tentu tidak cuma harus diteruskan ke Jerman. Yang justru jauh lebih penting adalah meneruskan cita-cita itu di sini, di Indonesia, sehingga cita-cita itu bukan lagi milik Hara sendiri, melainkan menjadi gairah kolektif bangsa ini. Mempersiapkan diri untuk menjadi negara tamu kehormatan FBF bukan kerja mudah dan cepat, meski itu bukan arti seberat memenuhi persyaratan menjadi tuan rumah piala dunia juga. Ada dua hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi harus tersedia: sekumpulan orang yang mau kerja keras dan sejumlah uang yang cukup untuk membiayai kerja keras orang-orang tersebut.
Orang yang masih asing dengan FBF mungkin lantas akan bertanya-tanya dengan berat hati: Memangnya kenapa sih kita harus ke Frankfurt? Untuk apa menghabiskan begitu banyak uang cuma untuk sebuah pameran buku? Bukankah kita juga sudah punya pameran buku sendiri? Keuntungan apakah yang akan kita dapat, entah sebagai bangsa atau sebagai rombongan penjual buku, dengan tampil di FBF?
Frankfurt means business. Tampil di FBF berarti dilihat dan melihat dunia. Kebesaran FBF telah menjadikannya sebuah ajang presentasi kebudayaan internasional. Buku memang menjadi fokusnya, tetapi masih ada berbagai bisnis dan kepentingan lain di sekitar buku yang turut tampil di FBF, dari perpustakaan, percetakan, penjilidan, desain, illustrator, program komputer, logistik, sampai perfilman dan pariwisata. Jadi, adalah keliru kalau menganggap FBF sekadar sebuah pekan ketika para penjual buku bertemu. Justru FBF itu adalah ajang bisnis yang sebenarnya, lengkap dengan berbagai macam negosiasi dan politik di baliknya.
Sesuatu yang penting tentu harus dibayar mahal, demikian pula dengan FBF. Untuk menjadi peserta FBF tahun ini saja, berdasarkan presentasi Hara, diperlukan dana sekitar 1 Milyar Rupiah. Kedengarannya mungkin sangat fantastik. Tetapi kalau dibandingkan dengan kurs Rupiah terhadap Euro saat ini, jumlah segitu sebetulnya masih bisa dimaklumi, terlebih lagi kalau mengingat harga tiket penerbangan dan logistik ke Jerman. Itu cuma untuk menjadi peserta pameran. Lantas berapa yang harus kita keluarkan untuk menjadi negara tamu kehormatan? Menurut Fenderl, orang sering salah sangka bahwa panitia FBF mengutip biaya untuk negara yang ingin jadi tamu kehormatan. Yang benar adalah justru yang menjadi negara tamu kehormatan itu tidak harus membayar sewa lahan seperti peserta pameran lain dan tidak ada biaya tertentu yang harus dibayar kalau sebuah negara ingin menjadi negara tamu kehormatan.
Tetapi seperti telah disebut sebelumnya, FBF adalah ajang besar dan meliputi berbagai kepentingan. Artinya, delegasi negara yang menjadi tamu kehormatan FBF bukan hanya harus datang ketika FBF dibuka lalu pulang dengan damai ketika FBF ditutup. Negara yang menjadi tamu kehormatan FBF harus mempresentasikan dirinya justru di luar FBF, sebanyak dan selama mungkin. Kalau Indonesia ingin menjadi tamu kehormatan FBF 2015 berarti sekurang-kurangnya sepanjang 2015 itu harus ada berbagai pameran mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia di kota-kota budaya utama Jerman (misalnya Berlin, Munich dan Dresden), konser musisi Indonesia (baik dari generasi baru maupun yang tradisional), dan tentu saja yang tidak boleh terlewatkan mengirim penulis-penulis Inonesia untuk mempromosikan karya mereka di berbagai kota di Jerman.
Dengan begitu, Indonesia akan menjadi fokus perhatian pers dan masyarakat Jerman, Eropa dan publik FBF pada umumnya. Untuk mendapatkan liputan inilah yang menurut Fenderl mahal harganya. Menurut Fenderl lagi, Korea Selatan menghabiskan sekitar 12 juta Euro, sementara Cina –negara kehormatan FBF tahun ini- mempersiapkan sekitar 20 juta Euro, hanya untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan budaya di luar FBFnya sendiri. Jumlah yang mungkin akan bikin kita bergidik ngeri. Tetapi ya, bayangkan saja, berapa orang dari negara tamu kehormatan tersebut yang harus diterbangkan ke Jerman, belum lagi biaya akomodasi selama di Jerman.
Menyangkut penulis-penulis Indonesia –bagaimanapun juga FBF tidak akan terjadi tanpa para penulis dan karyanya- betapa enam tahun akan terasa begitu singkat kalau kita harus mengusahakan agar karya-karya mereka sebanyak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, atau seapes-apesnya dalam bahasa Inggris. Memang benar, orang ingin tampil di FBF agar dikenal, tetapi kalau sama sekali tidak dikenal, tentu mustahil presentasi sebuah negara di FBF akan menarik perhatian publik internasional, Bagaimana pun juga orang lain perlu bahan sebagai modal perbincangan, perbandingan dan pembahasan. Tanpa sejumlah karya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman atau Inggris, sebuah negara tidak akan cukup representatif menjadi negara kehormatan FBF.
Namun Fenderl pun berulang kali menyampaikan bahwa meskipun uang adalah faktor yang penting, bukan berarti dia yang paling penting. Buku – jiwa utama FBF- adalah soal ide, maka keikutsertaan sebuah negara dalam FBF, baik sebagai peserta biasa maupun sebagai negara kehormatan adalah juga soal ide. Menurut Fenderl, kalau Indonesia serius mempersiapkan diri sebagai tamu kehormatan FBF, tidak harus meniru Korea Selatan atau Cina dalam hal pengeluaran. Yang perlu segera dibentuk adalah semacam komite berisi orang-orang kompeten yang bercita-cita sama seperti Hara, FBF 2015 untuk Indonesia. Mereka harus segera memilih penulis-penulis Indonesia untuk dipromosikan dan “dijual” ke dunia internasional, sehingga karya mereka terdengar sampai ke Frankfurt. Mereka juga harus memulai kerja lobby yang pelik ke aparat pemerintahan terkait, mencari sponsor politik dan dana, karena menjadi negara kehormatan di FBF adalah kerja nasional, bukan kerja IKAPI atau sekumpulan orang saja. Infrastruktur perbukuan harus segera dibenahi, kerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia harus berjalan lancar, frekuensi liputan tentang Indonesia oleh pers internasional harus ditingkatkan.
Intinya, Indonesia harus membuka dirinya untuk dilihat oleh dunia, dan jika memang kemudian ada kritik terlontar dari pihak luar, harus ada diplomasi dan solusi yang bermartabat. Tidak ada peraturan tertulis dari panitia FBF tentang apa yang boleh dan tidak boleh terjadi di sebuah negara yang ingin menjadi negara kehormatan FBF, tetapi tentu saja, sebuah negara yang tidak tahan kritik atau selalu menghadapi kritik dengan solusi-solusi berperspektif jangka pendek, mustahil dianggap memadai untuk tampil menjadi sebuah negara yang dihormati. Bukankah sebuah buku selalu membawa kritik di dalamnya? Adakah sebuah buku dapat tercipta jika penulisnya merasa segala sesuatu di dunia ini baik-baik saja?
Mengakhiri kunjungannya ke Asia Tenggara yang telah dijalankannya sejak dua minggu lalu, Fenderl mengunjungi dua penerbit besar Indonesia Gramedia dan Erlangga. Setiap kali ditanya kenapa dia ingin mengunjungi penerbit-penerbit negara yang dikunjunginya, Fenderl selalu menjawab “Untuk melihat dari dekat bagaimana mereka bekerja.” Rupanya bagi Fenderl, kerja sebagai orang dalam pameran buku terbesar dunia membuatnya sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk mengenal orang-orang yang terlibat dalam acara tersebut. Menurutnya, kesempatan mengunjungi kantor berbagai penerbit itulah yang bisa membuatnya menjejakkan kaki di dunia rekan-rekan kerjanya, mendengar apa keluhan mereka, mencatat kekurangan-kekurangan tentang acaranya sendiri dan saling bertukar ide. Fenderl membawa begitu banyak hadiah untuk dibagikan kepada orang-orang yang ditemuinya secara khusus selama perjalanan kali ini, dari mulai sebotol anggur, patung dada figur yang sedang membaca, sampai pajangan malaikat yang katanya bisa menjaga orang agar tertidur lelap tanpa mimpi. Hadiah-hadiah itu dirasanya sangat penting untuk sekadar berterima kasih dan untuk “mengingatkan mereka bahwa saya menunggu mereka di Frankfurt.”
(Artikel menarik ini dikutip dari millis Apresiasi Sastra)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.