Lori Motor

Artikel oleh: Totok, DAOP-3 Cirebon

Selain memiliki koleksi kereta api dan lokomotif, PT. Kereta Api (Persero) memiliki juga lori motor. Lori motor biasanya digunakan para pimpinan di setiap DAOP untuk melakukan kegiatan inspeksi ke lintas di wilayah kekuasaannya. Disebut lori motor karena kendaraan ini digerakkan oleh motor listrik.

Lori Motor di DAOP 3

Jika tidak sedang digunakan untuk inspeksi, maka lori motor “dikandangin” dulu supaya tidak kehujanan dan kepananasan. Maklum lori motor ini umumnya sensitif terhadap cuaca, jadi gampang kena “flu” (tapi anti “flu burung”). Kecepatan lori motor dibatasi kurang dari 50 km/jam karena badannya kurus dan ringan, jadi kalo kenceng takut terbang nyebur sawah.

Di beberapa DAOP (4 dan 9) lori motor ini dapat disewakan untuk umum. Dalam aturan yang sempat ditulis PT. Kereta Api (Persero) disebutkan bea minimum untuk sebuah lori motor untuk lintas Ambarawa - Jambu (Daop 4 Semarang) Rp. 100.000,-  dan Kalibaru - Garahan (Daop 9 Jember) Rp. 500.000,-.

Sementara itu di wilayah lain, penggunaan lori motor harus mendapatkan ijin tertulis dari KaDAOP. Di wilayah Daop 3 Cirebon memiliki dua buah lori motor dengan kondisinya masih lebih baik jika dibandingin dengan bajaj di Jakarta. Jadi saat nanti di Jakarta bajaj jadi dihapuskan, bagi bajajfans jangan bersedih karena hobby plesiran naik bajaj dapat disalurkan menggunakan bajaj rel ini.

Di area DAOP 3 Cirebon, sebenarnya masih banyak stasiun-stasiun peninggalan “kompeni” (baca : Belanda) dan masih belum banyak diotak-atik sama “inlander“. Untuk memudahkan plesiran ke stasion-stasion ini, kita dapat menggunakan lori ini dari Stasion Cirebon ke Stasion Prupuk sepanjang 75 km. Di tengah perjalanan, penumpang lori juga dapat menikmati pemandangan pedesaan dan hamparan sawah yang luas.

Masalah bagi railfans adalah sifat penggunaan lori di DAOP 3 Cirebon yang hanya untuk dinas inspeksi, bukan sebagai wahana wisata yang dapat disewa. Hal ini dikarenakan jalur kereta api di wilayah DAOP 3 Cirebon merupakan jalur yang sangat aktif, sehingga penggunaan lori dapat mengacaukan jadual yang ada. Tetapi saat para jajaran DAOP 3 Cirebon hendak melakukan inspeksi, mungkin saja dapat mengundang beberapa orang railfans untuk turut serta di dalam lori sebagai pengamat.

Sistem Persinyalan

Artikel oleh: Totok, DAOP-3 Cirebon

Ketika kereta api pertama diluncurkan, hal pertama yang dipikirkan manusia adalah segi keselamatannya karena seperti alat transportasi lain maka kereta api juga mempunyai kelemahan-kelemahan misalnya kereta api tidak dapat belok untuk menghindar tabrakan jika ada halangan di tengah jalan atau kereta api tidak dapat berhenti seketika (seperti mobil) untuk menghindari benturan. Untuk itu manusia menciptakan tanda (aba-aba) yang kemudian didukung kemajuan teknologi dan berpikir sekarang ini disebut sinyal.

Tanda atau sinyal sebenarnya adalah pesan atau informasi kepada masinis (sopir kereta api) tentang kondisi jalan kereta api yang akan dilalui oleh kereta api. Pesan tersebut umumnya dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kondisi yaitu tidak aman, aman dengan berjalan hati-hati atau aman sesuai kecepatan yang ditentukan. Prinsipnya masinis tidak bertanggungjawab terhadap situasi dan kondisi jalur perjalanan yang akan dilaluinya. Tanggung jawab tersebut dibebankan kepada PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) di stasiun-stasiun yang dilalui kereta api tersebut. Hal-hal yang menyebabkan tiga kondisi tersebut di atas dipengaruhi oleh :

  • Kondisi konstruksi jalan kereta api (trek);
  • Kondisi peralatan persinyalan atau peralatan telekomunikasi;
  • Kondisi atau posisi kereta api lain di lintas yang sama dengan kereta api tersebut baik berjalan searah atau berjalan berlawanan arah;

Kondisi lain yang dinilai dapat mempengaruhi keselamatan perjalanan kereta api misalnya banjir, tanah labil / longsor, kebakaran di area berdekatan dengan jalur kereta api atau terjadi kemacetan yang luar biasa di area pintu perlintasan.

Alternatif pengaturan untuk perjalanan kereta api secara berturutan (searah) harus didasarkan pada :

  • jarak pandang;
  • jarak waktu;
  • jarak ruang; dan
  • jarak pengereman

Alternatif berdasarkan jarak pandang biasanya dilakukan pada pengoperasi trem (dulu di Jakarta dan Surabaya pernah ada) selain kecepatan yang relatif rendah juga jarak pengeremannya pendek. Sinyal tidak diperlukan. Tapi dalam teori perkeretaapian sebenarnya menganut pemahaman bahwa jarak pandang harus lebih panjang dari jarak pengereman. Saat ini di daerah perkotaan jarak pandang masinis terhadap pintu-pintu perlintasan sangat sempit sehingga masinis tidak akan sempat melakukan pengereman jika pengendara jalan raya “nyelonong” sembarangan.

Alternatif berdasarkan jarak waktu hanya dapat dilakukan jika kereta api selalu dapat berjalan tepat waktu dan tidak ada toleransi kerusakan di jalan. Sinyal juga hanya diperlukan dalam kondisi khusus. Di Indonesia belum pernah diterapkan karena alternatif ini.

Alternatif berdasarkan jarak ruang adalah yang saat ini diterapkan untuk pengoperasian kereta api jarak jauh di Indonesia. Panjang jalur dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang disebut “petak jalan” yang ditandai dengan “sinyal masuk“. Jadi yang disebut petak jalan ada dua jenis yaitu :

  • petak jalan bebas terletak diantara dua sinyal masuk stasiun berdekatan; dan
  • petak jalan wilayah stasiun terletak diantara dua sinyal masuk stasiun yang sama.

Kelemahan alternatif ini adalah kereta api dapat masuk ke suatu petak jalan jika di petak jalan tersebut tidak ada kereta api lain. Singkatnya jika terdapat dua kereta api yang berjalan searah maka kereta api depannya harus sudah masuk ke petak berikutnya atau dua kereta api yang berjalan berlawanan maka salah satu kereta api sudah masuk di stasiun untuk bersilang. Persilangan hanya terjadi di lintas jalur tunggal (single track) sedangkan di lintas jalur ganda (double track) tidak ada persilangan.

Alternatif berdasarkan jarak pengereman hampir sama dengan dengan jarak ruang hanya biasanya petak jalan antara dua stasiun diperpendek hingga mencapai jarak pengereman terjauh. Petak jalan yang diperpendek disebut “petak blok“. Maksud dari alternatif ini adalah menambah frekuensi kereta api yang melalui jalur tersebut. Pengoperasian KA Jabotabek sudah menganut sistem ini.

Forestry train journey at Cepu, Central Java

Bagi seorang railfans, setiap naik kereta api adalah sebuah pengalaman yang menarik, apalagi jika masih dapat merasakan rangkaian kereta api uap seperti di masa lalu. Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan ujicoba rangkaian kereta api uap milik Perhutani di Cepu, Jawa Tengah. Sebuah kesempatan langka yang tidak mungkin untuk disia-siakan begitu saja, apa lagi perjalanan kereta api ini sempat terhenti akibat salah satu jembatan yang berada di dalam rutenya mengalamai kerusakan terkena amukan banjir besar.

Untuk mencapai lokasi tempat keberangkatan kereta api uap di Perhutani ini tidaklah sulit, Cepu bukanlah sebuah kota yang besar, menurutku masih lebih luas wilayah Kebayoran Baru daripada kota Cepu. Dari Stasion kereta api Cepu dapat ditempuh menggunakan becak seharga 7500 Rupiah saja, atau jika ingin menikmati suasana sepu yang tidak sepadat Jakarta, dapat berjalan kaki sejauh lebih kurang 2.5 KM melintasi kota.

Setibanya di dipo lokomotive milik Perhutani, sudah menunggu sebuah lokomotive uap buatan Berliner Maschinenbau tahun 1928. Pabrik lokomotive di Jerman ini didirikan pada 3 Oktober 1852 oleh Louis Victor Robert Schwartzkopff di Berlin. Loko ini deberi nama Tudjubelas, sebuah nama yang unik. Di sana setidaknya ada dua lokomotive sejenis dengan nama Bahagia dan Agustus.

tudjubelas steam locomotive at Cepu, Central Java, Indonesia

Pagi ini adalah perjalanan perdana melintasi perkebunan dan hutan jati milik Perhutani setelah perbaikan jembatan dilakukan. Perjalanan sejauh lebih kurang 22 KM melalui daerah perkampungan, ladang, hutan dan perbukitan yang menyuguhkan suasan asri penuh dengan keindahan. Rel kereta api yang selama dua tahun terakhir tidak lagi pernah dilewati, telah diperbaiki dengan cara mengganti bantalan kayu yang lapuk dengan potongan-potongan kayu jati yang lebih kokoh. Di beberapa tempat yang ambles telah diberi batu kricak (balast) untuk mengeraskan tanah yang melunak. Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat suasana menjadi semakin seru, para crew yang bekerja harus berbasah-basah terkena hujan, sementara di kereta penumpang kami dapat duduk dengan nyaman sambil melihat pemandangan di luar yang basah.

Rainy day at Cepu

Di tengah perjalanan, rangkaian melintas di atas jalan raya Cepo - Blora, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak untuk memotret kereta api yang melintas di atas jalan raya, lokasi ini dikenal dengan nama Buk Brosot (buk dapat berarti jembatan dalam bahasa Jawa). Beberapa orang pengemudi kendaraan bermotor di bawahnya bahkan menyempatkan untuk berhenti, karena mendapatkan peristiwa yang cukup langka ini.

Steam Train over the viaduct

Kira-kira dua jam perjalanan dari Dipo Lokomotive Perhutani, kami akhirnya tiba di tempat tujuan, yaitu Gubuk Payung. Sebuah tempat yang menurutku sangat indah karena berada di tengah-tengah rimbunnya hutan jati yang berumur ratusan tahun. Saat kami tiba, waktu menunjukan pukul 12 siang, tetapi di Gubuk Payung, suasan sudah seperti Maghrib, karena cahaya matahari tertahan oleh rimbunnya daun-daun jati, indah sekali. Sebenarnya masih ada jalur kereta api lagi setelah Gubuk Payung, tetapi saat ini semua telah hilang, orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah mencuri sebagian besar rel di sana, padahal jalur selanjutnya lebih menantang, karena benar-benar di dalam hutan lebat.

Steam locomotive at Gubuk Payung, Cepu

Setelah istirahat makan siang, saya melanjutkan memotret dan bersiap-siap untuk kembali ke kota Cepu. Rangkaian kereta api sudah diputar dan siap membawa kami kembali. Perjalanan pulang terasa begitu cepat karena saya sudah mulai lelah dan sempat tertidur beberapa saat. Di tengah jalan, banyak anak-anak kecil melambai-lambaikan tangan seolah bahagia karena melihat sebuah peristiwa besar, beberapa bahkan berlarian mengejar rangkaian kereta api.

Perjalanan saya kali ini memang sangat luar biasa, pasti saya akan kembali lagi ke Cepu untuk dapat menikmati naik kereta api uap legendaris ini. Tidak salah mereka membuat slogan “It is only four hours, but the memory of your teak plantation tour will last forever“.

Berani mencoba !

Gumarang, Jakarta ke Surabaya

Untuk bepergian dengan kereta api dari Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya, biasanya kita langsung mengingat kereta api eksekutif Argo Bromo atau saat ini disebut dengan Argo Anggrek.

 Ada sesuatu yang lucu, nama Argo Bromo berarti Gunung Bromo dalam bahasa Indonesia, tetapi sejalan dengan waktu, nama rangkaian Argo Bromo diganti dengan Argo Anggrek yang tentu saja berarti Gunung Anggrek. Pertanyaannya adalah, dimanakah letak Gunung Anggrek ?

Sebenarnya ada satu lagi rangkaian kereta api yang melayani route Jakarta Surabaya PP, yaitu rangkaian Gumarang. Rangkaian ini terdiri dari kereta bisnis dan kereta eksekutif, sebuah pilihan yang ditawarkan kepada penumpangnya untuk disesuaikan dengan budget yang ada.

Rangkaian Gumarang berangkat dari stasion Jakarta Kota (beos) setiap hari pada pukul 17:45 WIB. Cukup sore memang karena itu angkutan ini cukup diminati. Mendengar Stasion Jakarta Kota, tentu pikiran kita melayang dengan kemacetan yang terjadi di daerah Glodok atau Mangga Dua. Tidak perlu pusing, rangkaian Gumarang berhenti sejenak di Stasion Gambir untuk menaikan penumpang, dan kembali meneruskan perjalanan pada pukul 18:00 WIB.

Karena kereta berjalan pada malam hari, maka menumpang kereta bisnis bisa menjadi pilihan yang baik. Udara malam yang dingin berhembus di dalam kereta dan mengurangi panas yang ada. Sebagai sebuah rangkaian eksekutif-bisnis, Gumarang cukup bersih dari para pedagang kaki lima, kecuali saat berhenti di stasion-stasion singgah, yaitu di Cirebon Kejaksan, Tegal, Pekalongan, Semarang Tawang, Cepu dan Bojonegoro.

Rangkaian yang berangkat dari Jakarta Kota pukul 17:45 WIB ini, tiba di stasion Pasar Turi, Surabaya pada pukul 05:50 WIB keesokan harinya. Namun sayang, rangkaian ini sering mengalami keterlambatan sehingga terkadang baru pukul 08:00 WIB baru tiba di stasion tujuan.

Ada dua harga tiket untuk rangkaian Gumarang, yaitu tiket bisnis sebesar 130 Ribu Rupiah dan tiket eksekutif sebesar 190 - 200 Ribu Rupiah (tergantung hari). Khusus untuk rangkaian Eksekutif, penumpang akan mendapatkan fasilitas bantal, selimut, makan malam dan secangkir teh di pagi hari. Sedangkan untuk penumpang kelas bisnis bisa menyewa selimut dan bantal seharga masing-masing 2500 Rupiah, sementara untuk makan malam dapat membeli makanan dari restorasi (rata-rata 10.000 Rupiah) atau membeli dari pedangan kaki lima seharga 2.000-5.000 Rupiah.

Ciliwung Blue Line

Mendengar nama Ciliwung Blue Line, seperti mendengar sebuah program penanggulangan banjir di Jakarta, padahal sebenarnya tidak!. PT.Kereta Api (persero) dan Pemda DKI telah membuat sebuah layanan angkutan cepat berbasis kereta api yang berjalan melingkar di dalam kota Jakarta (Jakarta Circle Line). Sebuah program bersama yang dibuat untuk mengurangi beban angkutan jalan raya yang semakin lama semakin padat.

Pak Akhmad Sujadi selaku Kahumas DAOP1, Jakarta, kebetulan mengundang untuk mencicipi ujicoba rangkaian Ciliwung Blue Line. Rangkaian KRL-I ber-AC yang berangkat dari Stasion Manggarai mengarah ke Tanah Abang kemudian diteruskan ke Kampung Bandan, Pasar Senen, Jatinegara dan kembali ke Manggarai.

Seperti layaknya TransJakarta Busway, Ciliwung Blue Line juga akan menerapkan karcis sekali jalan sebesar 5000 Rupiah dan sekali berangkat dapat mengangkut kurang lebih 400 penumpang.

Ujicoba jalur lingkar ini adalah sebuah terobosan di bidang transportasi masal, tetapi masih banyak perangkat yang masih perlu diperbaiki, misalnya stasion-stasion yang perlu dibenahi, juga gubuk liar yang menghuni sepanjang lintasan kereta api dan di sekitar stasion yang tidak membuat calon penumpang menjadi nyaman. Kendala teknis yang paling utama adalah kondisi di Stasion Jatinegara yang terpaksa membuat rangkaian kereta api ini harus langsir agar dapat meneruskan perjalanan ke Stasion Manggarai sebagai start/end point.

Saat beroperasi nanti, Ciliwung Blue Line akan melayani penumpang di Stasion-Stasion berikut:

  • Stasion Manggarai
  • Stasion/Halte Mampang (Latuharhary)
  • Stasion Sudirman
  • Stasion/Halte Karet
  • Stasion Tanah Abang
  • Stasion/Halte Duri
  • Stasion/Halte Angke
  • Stasion Kampung Bandan
  • Stasion Pasar Senen
  • Stasion Jatinegara

PT.Kereta Api (persero) masih menjalankan rangkaian ini satu arah, dan jika memungkinkan, di kemudian hari Ciliwung Blue Line akan berjalan dua arah untuk memudahkan penumpang.

*KRL-I = Kereta Rel Listrik - Indonesia, salah satu type KRL yang dibangun di dalam negeri.

Repainting Lokomotif Uap

Tidak ada yang lebih menarik bagi seorang railfans kecuali melihat kereta api masih berjalan dengan gagah di rel, mengantar penumpang dan mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kecintaan railfans terhadap kereta api sebenarnya tidak terbatas hanya kepada kereta api yang masih aktif melayani perjalanan, tetapi juga kepada kereta api yang saat ini diam membisu dan berdiri gagah sebagai sebuah monumen.

CC5001 - Museum of Transportation, Taman Mini Indonesia Indah

<

p>Pada masa jayanya CC5001 telah melayani penumpang dan angkutan barang di wilayah Selatan Jawa Barat.

Salah satu tempat favorit para railfans adalah Museum Kereta Api Uap, Ambarawa dan Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Museum Transportasi di TMII di Jakarta, memiliki 27 koleksi lokomotive uap yang pernah melayani sekaligus sebagai sebuah simbol teknologi angkutan darat. Beberapa lokomotif uap yang ada bahkan berusia lebih tua dari usia Republik Indonesia dan mulai melayani saat masa kolonial Belanda.

Sangat disayangkan, semua kejayaan lokomotif uap itu sudah padam dan sejalan dengan waktu, mulai hilang ditelan masa. Dari ratusan lokomotif uap yang pernah hilir mudik melayani bangsa Indonesia, saat ini hanya tersisa kurang dari 70 unit yang masih berdiri sebagai monumen dan setidaknya masih ada 3 lokomotif uap di Ambarawa dan 1 lokomotif uap di Cepu yang masih dapat beroperasi dan menemani para wisatawan menikmati kejayaan masa lalu. Sementara ratusan lokomotif uap lainnya telah dipotong bagian demi bagian, hanya sebagai besi tua belaka.

Hari ini, kami para railfans melakukan sebuah kegiatan untuk tetap menghargai jasa dan kejayaan “raksasa hitam” itu dengan melakukan pengecatan kembali. Panas dan hujan serta karat yang menyerang bak kanker ganas telah membuat mereka tampak mengenaskan. Hanya dengan sekaleng cat, sebatang kuas, selembar ampelas serta semangat, yang dapat railfans sumbangkan untuk mewarnai kembali kejayaan mereka.

Steam Locomotive collection at Museum of Transportation, Taman Mini Indonesia Indah

Pelayanan Angkutan Lebaran

Musim mudik lebaran adalah musim yang sangat sibuk, khususnya bagi kereta api. Pada H+5, saya sempat-sempatin untuk sowan (berkunjung) ke Humas DAOP1, Bapak Ahkmad Sujadi sekalian silaturahmi lebaran. Disambut dengan hangat walau tampak terlihat air mukanya yang tampak lelah, karena standby selama 14 hari “menemani” pemudik yang menggunakan jasa kereta api. Betul seluruh jajaran PT. Kereta Api (Persero) wajib hadir selama masa angkutan lebaran sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih maksimal.

Banyaknya pemudik dan daya tampung kereta api yang terbatas, ternyata tidak menyurutkan minat penumpang untuk tetap menggunakan angkutan Kereta Api. Banyak pemudik rela antri dan menunggu agar terangkut ke kampung halamannya menggunakan kereta api, karena tariffnya yang murah. Seorang pemudik di Stasion Senen sambil bertelanjang dada dan menghisap rokok tampak asik bercanda dengan keluarga dan rekan-rekannya di kereta api. Teriknya panas Jakarta tidak digubris lagi, mereka sudah masuk ke dalam rangkaian kereta api saat masih berada di jalur langsir dan waktu perjalanan masih sekitar 2 jam lagi. Menggunakan kereta api bagi mereka cukup efisien karena seluruh keluarga dapat diangkut bersamaan dengan barang-barang yang sangat banyak. Biasanya para pemudik memasukan oleh-oleh ke dalam dus berukuran sedang dan besar, sementara para pemudik memenuhi kursi dan lorong di dalam rangkaian. Di dalam kereta api mereka juga dapat saling bersosialisasi dengan teman sekampung sehingga perjalanan mudik makin terasa menyenangkan. Ketidak nyamanan di rangkaian ekonomi sudah tidak dirasakan lagi oleh mereka.

Sementara bagi penumpang kereta api eksekutif, pengalaman yang dirasakan sedikit berbeda karena rangkaian kereta yang nyaman dan ber AC serta jumlah penumpang yang sesuai dengan jumlah tempat duduk, walau masih ada penumpang yeng nekat berdiri dan memilih membayar ke kondektur.

Selai itu PT.Kereta Api (Persero) juga menyediakan kereta api Sapujagat, yaitu sebuah rangkaian kereta api yang akan dijalankan untuk membawa penumpang yang tersisa di stasiun-stasiun pemberangkatan. Bagai banyak orang, kereta api sapujagat dibilang tidak manusiawi, karena rangkaian ini sehari-harinya digunakan untuk mengangkut barang atau paket. Tetapi bagi para pemudik yang masih tertinggal sudah tidak memperhatikan lagi faktor tersebut, bagi mereka terangkut sampai ke kampung halaman adalah prioritas utama. Di dalam rangkaian ini, para pemudik menggelar tikar atau koran di lantai sebagai alas duduk, karena memang rangkaian ini tidak memiliki tempat duduk, hanya ada 2 pintu besar di tengah dan tanpa jendela. Saya melihat rangkaian Sapujagat kali ini lebih baik dari tahun sebelumya. Kebanyakan rangkaian adalah rangkaian yang baru selesai direhabilitasi, cukup baik walaupun jauh dari nyaman.

Secara keseluruhan, Angkutan Lebaran 2007 ini terbilang cukup baik. Tetapi ada sebuah kejadian yang mencoreng pelayanan Angkutan Lebaran, kala rangkaian Senja Utama Solo anjlok akibat patah as di sekitar stasiun Telaga Sari, Indramayu. Penanganan kejadian ini perlu mendapat acungan jempol, karena PT.KA (Persero) dengan serius melakukan perbaikan, bahkan jajaran direksipun datang ke lokasi untuk memantau perbaikan, bahkan para direksi merayakan Lebaran bukan di rumah melainkan di Stasion Cirebon bersama dengan staffnya.

Angkutan Lebaran kali sudah selesai seiring dengan selesainya masa liburan Lebaran, dan angkutan lebaran sepertinya menjadi sebuah parameter bagi PT. Kereta Api (Persero) untuk membuktikan kepada masyarakat, bahwa kereta api jika dikelola dengan baik serta didukung oleh pemerintah dengan lebih serius lagi akan selalu mendapatkan tempat hati di masyarakat. Sementara yang menjadi keinginan masyarakat sebenarnya adalah pelayanan ala angkutan lebaran yang diperlakukan setiap hari di lingkungan PT. KA (Persero).

Depex ikut libur Lebaran

Ada yang lucu saat hari pertama masuk ke kantor setelah selesai masa liburan Idul Fitri 1428 Hijriah, yaitu perjalanan Depok Express jurusan Depok - Sudirman - Tanah Abang diliburkan sampai dengan tanggal 19 Oktober 2007 dan baru aktif kembali mulai tanggal 22 Oktober 2007.

Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengenai hal ini selain bahwa PTKA dalam hal ini sebagai pengelola kereta api “merasa” bahwa tingkat okupansi penumpang sampai dengan tanggal 19 Oktober diprediksi sedikit. Dengan kata lain, apabila rangkaian ini dijalankan, maka akan timbul kerugian. Sebagai ganti, PTKA tetap menjalankan dua kereta ekspress dengan jadual perjalanan 07:12 dan 08:00. Dan yang lebih membuat penumpang tersenyum kecut, kedua jadual tersebut adalah untuk tujuan Jakarta Kota, tidak ada jurusan Sudirman/Tanah Abang.

Dengan kondisi seperti ini, akhirnya pilihan jatuh ke KRL Ekonomi jurusan Depok - Tanah Abang, berangkat dari depok pukul 06:50 (75 menit setelah jadual resmi Depex Tanah Abang). Harga tiket yang cuma Rp.1500,- tentu saja sangat murah. Suasana libur lebaran yang masih berlangsung, membuat KRL ini masih belum banyak ditumpangi oleh penumpangnya, hasilnya berangkat dari Stadela masih banyak bangku kosong.

Tentu saja tidak seperti Kereta Express, KRL Ekonomi biasanya dijejali oleh banyak penumpang. Tapi kali ini perjalanan menggunakan rangkaian ini sangat menyenangkan, karena suasana yang lenggang serta jadwal perjalanan kereta api jabotabek yang dikurangi, membuat perjalanan cukup cepat dan tidak sumpek.

Menempuh perjalanan lebih kurang 45 menit dari Depok, akhirnya rangkaian tiba di Sudirman. Pagi ini banyak Depexers yang ternyata menumpang KRL Ekonomi, dan pagi ini wajah ceria tetap menghiasi mereka, waktu untuk mulai beraktivitas di kantor tidak terlambat, kondisi badan masih cukup segar dan tidak tersentuh tangan-tangan jahil.

Stasion Plabuan

Banyak orang menyangka ini adalah sebuah stasion kereta api di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tidak salah orang mengira, karena jika mendengar kata Plabuan, orang pasti akan langsung berpikir tentang sebuah Pelabuhan yang berisi kapal-kapal besar.

Station Plabuan berlokasi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah berada di tengah-tengah antara Pekalongan dan Semarang. Sebuah plabuhan kah?.

Stasion ini bahkan hampir tidak pernah disinggahi oleh kereta api. Kereta api yang berhenti di stasion ini biasanya karena menunggu persilangan dengan kereta api di depannya. Dan biasanya pada malam sampai dini hari, otomatis banyak penumpang tidak menyadari adanya stasion ini.

Tapi bagi seorang railfan, Stasion Plabuan memiliki daya tarik tersendiri. Stasion yang kecil ini (tidak lebih besar daripada halte busway di Dukuh Atas atau bahkan Stasion Sudirman) berada di tepi pantai laut jawa. Jarak dari peron ke tepi pantai hanya sekitar 20 meter saja dan sedikit terhalang dengan pemukiman penduduk. Jika tidak ada kereta api, deburan ombak di tepi pantai akan terdengar jelas serta angin pantai yang keras dan lembab juga terasa di sini. Uniknya, tepat di bagian belakang stasion terdapat perbukitan hutan jati yand rindang, apabila diteruskan akan tembus ke daerah Alas Roban di Pantura yang terkenal itu.

Argo Muria melintas di Stasion Plabuan

Karena tidak ada kereta api yang berhenti normal di sana, maka untuk menuju ke Stasion Plabuan dapat melalui jalur pantura dilanjutkan naik ojeg (sepanjang lebih kurang 14km dari jalur Pantura) atau menumpang rangkaian Kaligung Ekonomi dan minta berhenti di sini.

Sejenak di Stasion Plabuan dapat melupakan segala kesibukan kota besar. Bercanda dengan anak-anak nelayan sambil minum kopi panas di rumah salah seorang penduduk adalah sebuah pengalaman yang menarik. Saat malam hari menghabiskan malam bersama para petugas stasion sambil membakar ikan dan melihat kereta api yang melintas juga sebuah pengalaman luar biasa.

Kaligung at Plabuan Station

Stasion Plabuan sebuah tempat terpencil yang sederhana dengan begitu banyak pengalaman baru menunggu kita.

28 September Hari Kereta Api

Dapat dipastikan hanya sedikit orang saja yang tahu pada hari ini tanggal 28 September adalah hari Kereta Api.

Sebenarnya jika merunut ke masa lampau, jalur kereta api pertama di Jawa dibuka pertama kali pada tanggal 10 Agustus 1867 yang menghubungkan Semarang dan Tanggung, Jawa Tengah. Jalur pertama ini dikelola oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij.

Kemudian pada tanggal 31 Januari 1873, jalur kereta api antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor) mulai digunakan. Diteruskan pada tanggal 16 Mei 1878 dibuka jalur kereta api yang menghubungkan Surabaya dan Pasuruan, di Jawa Timur. Bahkan di Sumatera, tepatnya di Aceh, Jalur kereta api telah dibangun sejak tahun 1876 yang menghubungkan kota Banda Aceh dengan Ule Lhee. Diteruskan dengan dibukanya jalur-jalur kereta api di Sumatera Barat pada tahun 1891 - 1894. Pada tahun 1922 sebuah jalur kereta api juga dibangun di Sulawesi Selatan yang menghubungkan Ujung Pandang sampai Takalar.

Pengembangan jalur kereta api terus dikembangkan oleh pemerintahan kolonial Belanda dan sempat terhenti saat Indonesia dijajah oleh Jepang.

Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 28 September 1945, Pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan kereta api dari pemerintah Jepang, dan tanggal 28 September dideklarasikan sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Sampai hari ini, perkembangan kereta api di Indonesia masih cukup baik, walau masih didera dengan banyak masalah yang masih menjadi kendala cukup besar.

Selamat ulang tahun kereta api, semoga tetap menjadi sebuah moda transportasi yang dicintai banyak orang.

Ambarawa

B2502 dan B2503 dua kereta uap peninggalan masa lalu yang masih setia membawa wisatawan menikmati keindahan Ambarawa, Jawa Tengah

Tags

Berita Asia Blogging

Kolom Asia Blogging

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)