← Kembali ke halaman depan

Parahyangan kehilangan penggemar

Mungkin masih ingat di benak para pengguna Kereta Api Parahyangan jurusan Gambir - Bandung, saat harus antri berpanjang-panjang demi mendapatkan tiket tempat duduk. Bukan isapan jempol belaka, untuk mendapatkan tiket Parahyangan perlu datang ke Gambir, 2 jam sebelum jadual keberangkatan kereta api, bahkan lebih. Begitu juga sebaliknya, Tiket Minggu dan Senin pagi sudah habis di pesan satu minggu sebelumnya. Banyak penumpang kelas eksekutif yang complain karena rangkaian eksekutif dipenuhi oleh penumpang dengan tiket berdiri. Bahkan kereta begasi dan pembangkit (BP) juga dipenuhi oleh penumpang “arisan” alias membayar langsung 10 Ribu Rupiah ke Kondektur.

Kondisi tersebut tiba-tiba berubah drastis 180 derajat saat pemerintah meresmikan dibukanya jalan tol Cipularang. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya menjadi sangat mudah dan cepat. Beberapa orang mengatakan membutuh waktu hanya 2 jam saja untuk sampai ke Bandung dari Jakarta dengan menggunakan mobil pribadi.

Kondisi ini juga membuat peluang usaha baru bagi penyedia jasa antar jemput/trevel yang membuka rute Jakarta - Bandung PP. Bahkan beberapa pengusaha menyediakan poin penjemputan dekat dengan perumahan, misalnya Bintaro, Pondok Indah, Pluit dan Kelapa Gading.

Rangkaian Parahyangan adalah moda transportasi masal yang terkena imbas langsung dengan dibukanya jalan tol baru tersebut. Saat ini tidak pernah ditemui lagi antrian mengular di depan loket-loket Parahyangan dan Argo Gede, Tidak ada lagi orang yang berdesakan di bordes dan di kereta makan. Beberapa kali menggunakan Rangkaian Argo Gede dari Bandung menuju ke Jakarta untuk jadual perjalanan terakhir dari Bandung (18:00), rangkaian hanya diisi kurang dari 10 penumpang saja. Ada joke yang menyebutkan bahwa saat ini Parahyangan lebih banyak crewnya daripada penumpangnya.

Parahyangan vs Cipularang

Kondisi ini mengakibatkan beberapa jadual Parahyangan dihapus, dan beberapa rangkaian Parahyangan dirubah menjadi Rangkaian Cirebon Express karena permintaan jalur Jakarta - Cirebon masih cukup tinggi.

Banyak ide-ide untuk menyelamatkan Parahyangan, misalnya memperpanjang jalur menjadi Jakarta - Banjar atau Bandung - Depok, Bandung - Serpong. Masih butuh waktu bagi operator mensiasati persaingan yang semakin ketat saat ini.

Pada masa jayanya dulu, PT.KA(Persero) tidak memiliki langkah-langkah dan rencana-rencana yang dibuat untuk mengatasi persaingan dengan moda transportasi lain. Khususnya Parahyangan, mereka seolah baru sibuk setelah Cipularang diresmikan

Parahyangan kini seolah hidup enggan, matipun tak mau

Ikuti diskusi Ada 6 komentar untuk artikel ini.

  1. ivanlanin

    Waduh, kasihan juga ya PTKA. Tapi, masih suka molor gak waktu tempuhnya?

    September 26th, 2007 at 8:36 am

  2. indra kh

    Untuk bisa bersaing, KA harus bisa memperbaiki waktu perjalanannya lagi, khususnya untuk rute Bandung-Jakarta PP. Hal tersebut tentu akan berkaitan dengan infrastruktur yang ada. Pembenahan harus mulai dari faktor yang satu ini. Semoga belum terlambat untuk berbenah.

    September 28th, 2007 at 5:08 am

  3. badia

    Kalau sampai jalur ini mati,itu adalah dosa yang tidak bisa termaafkan.
    Tidak apa 3 jam duduk manis didalam KA ketimbang “jeglag-jeglug” ga keruan di jalan tol,toh tujuan akhirnya sama juga kok…
    Namun gimana kek diusahakan supaya Parahyangan jangan “seolah hidup enggan,mati tidak mau”,nah itu urusan PTKA deh dan pemerintah..
    Tidak ada kata “terlambat” untuk itu…

    October 8th, 2007 at 12:27 am

  4. Santo Tjokro

    Setiap kali mendengar nasib suram Parahiangan (dan Argo Gede), rasa2 nya hati ini menjadi haru biru gak karuan. Bagimana lagi, wong ini sudah menjadi bagian pokok dari hidup saya, sekitar 22 tahun, ketika mulai menjadi penglaju Bandung - Jakarta, sebagai “PJKA - Pulang Jumat Kembali Ahad”.
    Perjalanan karier kerja dan kegiatan lain2 (pulang mendadak, kembali mendadak karena urusan keluarga) selalu hampir ada kaitannya dng naik Parahiangan /Argo Gede.

    Lagipula, inilah PTS saya (Perguruan Tinggi SEPUR), selama wira-wiri itu saya “berguru” - lebih dari 20 tahunan, serius+rutin sejak 1980, dengan Dosen Luar Biasa alias Dosen Tidak Tetap, yaitu para PPKA, PAP, Tukang Sinyal, KS, KP, Mas, Jra, JPJ, PJL, PL, penjaga loket, juru langsir, prama/pami dst dst. Dimulai dari sekedar penggemar kereta api umum/biasa, sampai akhirnya lulus PTS - benar2 “edan” sepur.

    Sejak Tutut (dng. dukungan babenya) memulai idenya dng jalan tol Cikampek-Padalarang, seharusnya saat itu PTKA harus sudah mulai bebenah diri - th1990, sudah diingatkan dari saat itu melalui berbagai tulisan, artikel, studi dan sentilan2, tapi ya dasar sudah menjadi nasib dan menjadi bagian kusut dari birokrat pemerintah bangsa kita ini, makanya akhirnya walaupun Tutut (dan babenya) tergeser, bola salju telah berguling dan semakin membesar, akhirnya tertelanlah Parahiangan/Argo Gede. Sedih!

    December 16th, 2007 at 1:31 pm

  5. totok

    Itu sih belum seberapa mas, sebentar lagi nasib yang sama akan diderita KA Cirebon Ekspres em KA Argo Jati kalo PTKA nggak belajar dari pengalaman pahitnya.

    Kalo jalan tol Cikampek - Cirebon (Palimanan) udah beroperasi (katanya 2 tahun lagi tuh) jadi dibangun, nasib serupa juga terjadi di Cirebon. Kacian deh lu !!!.

    Nah, mumpung masih ada waktu sebenernya PTKA bisa antisipasi ya. Kalo dipikir nasibnya akan lebih parah lagi tuh. Masalahnya bus yang dari Jawa Tengah en Jawa Timur kan pasti lewat Cirebon en selanjutnya (biasanya) bus berani banting tarif daripada kosong.

    Terus kalo KA tarifnya masih mahal en pelayanan yang pas-pasan (maksudnya nggak ada kelebihan dibanding bus / travel) apa penumpang nggak bakal milih yang murah. Mati luh!!!

    Gua jadi bingung nih apa orang-2 KA tuh pada mikir masa depan gak sih. Apa mungkin punya pikiran begini “gak mungkin KA bubar, kan punya pemerintah jadi gak bakal ada PHK”. Kalo gitu enak dong ya bisa ngandelin pemerintah, kayak PNS aja sih.

    Katanya nanti dengan UU no 23 - 2007 perekeretaapian bakal dibagi dua : 1. ngurusin jalan rel 2. ngurusin operasinya. Jalan rel nya diurus pemerintah trus operasinya bisa dijalanin sama swasta. Kira-kira kalo orang PTKA berpikirnya masih kayak gini, PTKA bisa dibubarin gak ya ??

    Terserah aja deh.

    January 14th, 2008 at 12:10 am

  6. antown

    saya ingin naik kereta jurusan jakarta-bandung tapi nggak tahu harganya berapa. ada yang bisa bantu saya kasi informasi?

    salam kenal

    March 29th, 2008 at 7:26 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Tags

Berita Asia Blogging

Kolom Asia Blogging

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)